ft@unnur.ac.id (022) 6002060

Yudisium FIKI

Pada hari Rabu tanggal 31 Oktober 2018 bertempat di Atlantic City Hotel, Jl. Pasirkaliki Bandung telah dilaksanakan Yudisium Fakultas Ilmu Komputer dan Informatika (FIKI). Yudisium kali ini diikuti sebanyak 33 orang mahasiswa. Dalam sambutannya Rektor menyampaikan bahwa Yudisium diartikan sebagai suatu keputusan di mana seorang mahasiswa dinyatakan telah memenuhi syarat dari berbagai macam persyaratan seperti: persyaratan akademik dan administrasi yang diwajibkan atau telah lunas semuanya, sehingga nantinya secara sah dinyatakan LULUS.

Rektor berpesan agar para alumni FIKI Unnur mampu menangkap peluang khususnya peluang di bidang ekonomi kreatif. Ciri khas ekonomi kreatif adalah dekat dengan daya cipta, paduan unsur seni dan teknologi, serta menimbang rasa yang modern dan kekinian. Beberapa contoh ekonomi kreatif antara lain aplikasi digital untuk pemesanan hotel atau tiket perjalanan melalui berbagai moda transportasi.

Data laporan peringkat start up yang dirilis tahun 2017 menunjukkan ada 1.705 usaha rintisan di Indonesia. Indonesia berada di rangking keempat sebagai negara dengan start up terbanyak setelah Inggris, India, dan AS. Gambaran ini menunjukkan bahwa peluang usaha atau peluang kerja bagi lulusan IT sangatlah besar. Bahkan majalah Intisari edisi bulan September memberikan gambaran gaji rata/tahun di Indonesia profesi IT sebesar Rp 250 – 500 juta dengan proyeksi kenaikan gaji 20-40%. Keahlian yang rata-rata dicari antara lain framework dan big data, software engineer dan developers, product manager dengan kecakapan komunikasi.

Rektor berharap para peserta yudisium ini terus belajar sehingga nantinya menjadi salah satu pelaku start up di negera tercinta Indonesia yang mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional Indonesia. Selesai sambutan, Rektor secara resmi membuka acara Yudisium yang dilanjutkan Dekan FIKI mengumumkan hasil Yudisium beserta prestasi masing-masing. Dalam Yudisium ini diumumkan juga nama peserta Yudisium sebagai lulusan terbaik dan dua orang peserta sebagai peneliti terbaik.